Powered By Blogger

Minggu, 29 Januari 2017

PRAKTIKUM SANITASI DAN KEAMANAN PANGAN : UJI DISINFEKTAN

Diposting oleh Luneta Aurelia Fatma di 18.35.00




LAPORAN PRAKTIKUM
SANITASI DAN KEAMANAN PANGAN
Uji Disinfektan





Kelompok 1

Ana Cholifatul Chusna              ( 2013340001 )
Husnun Hanifah                                    ( 2013340018 )
Luneta Aurelia Fatma                ( 2013340014 )
Niken Larasati                           ( 2013340033 )
Ulfa Ina Wardhani                     ( 2013340034 )
Veronika Rengganis C.R           ( 2013340013)


JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS SAHID JAKARTA
2016

A.    Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan mempelajari efektivitas beberapa jenis disinfektan dan antiseptik serta. Selain itu, mempelajari penerapan metode cakram kertas saring dan metode difusi sumur untuk mengevaluasi aktivitas dan efektivitas beberapa jenis disinfektan dan antiseptik

B.     Teori Singkat
Usaha manusia untuk mengatasi mikroorganisme penyebab penyakit dan penurunan mutu bahan pangan banyak menggunakan penambahan bahan pengawet untuk mencegah atau mengurangi kerusakan dan kerugian yang diakibatkan. Bahan pengawet untuk mencegah kerusakan biologi yang disebabkan oleh mikroorganisme disebut dengan antimikroba. Senyawa antimikroba ada yang termasuk kelompok antibiotika, desinfektan, dan antiseptik. Antibiotika adalah suatu substansi yang dihasilkan mikroorganisme yang dalam jumlah amat sedikit menunjukkan kegaiatan antimikroba.
Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang terdapat pada permukaan tubuh luar mahluk hidup. Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri (Craig., 1998). Berdasarkan sifatnya antibiotik dibagi menjadi dua; antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu antibiotik yang bersifat destruktif terhadap bakteri dan antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri (Van Saene., 2005). Desinfektan adalah zat kimia yang mematikan sel vegetatif belum tentu mematikan bentuk spora mikroorganisme penyebab suatu penyakit. Desinfektan digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada benda-benda mati seperti meja, lantai, objek glass dan lain-lain. 
Keefektifan penghambatan merupakan salah satu kriteria pemilihan suatu senyawa antimikroba untuk diaplikasikan sebagai bahan pengawet bahan pangan. Semakin kuat penghambatannya semakin efektif digunakan. Kerusakan yang ditimbulkan komponen antimikroba dapat bersifat mikrosidal (kerusakan tetap) atau mikrostatik (kerusakan sementara yang dapat kembali). Suatu komponen akan bersifat mikrosidal atau mikrostatik tergantung pada konsentrasi dan kultur yang digunakan. Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, peningkatan permeabilitas membran sel yang dapatmenyebabkan kehilangan komponen penyusun sel, menginaktivasi enzim, dan destruksi atau kerusakan fungsi material genetik.
Salah satu metoda yang paling sering digunakan adalah metoda difusi agar yang digunakan untuk menentukan aktivitas antimikroba. Kerjanya dengan mengamati daerah yang bening, yang mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh antimikroba pada permukaan media agar (Jawetz et al., 2005). Metode difusi sumur yang biasa digunakan adalah cara cup plat. Cara ini dengan dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi antibiotik yang akan di uji.
Uji desinfektan dengan metode difusi sumur dapat menggunakan beberapa jenis desinfektan. Tujuan digunakan macam-macam jenis desinfektan yakni untuk mengetahui desinfektan mana yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri yang diinokulasikan pada sumur. Kerentanan bakteri terhadap suatu antibakteri dapat diukur secara in vitro dengan menggunakan prinsip difusi agar. Beberapa proses berlangsung ketika infusa yang mengandung antimikroba dimasukkan ke dalam sumur pada agar medium yang telah diinokulasi. Pertama, terjadi penyerapan air dari medium agar dan kemudian melarut. Kemudian antimikroba itu berdifusi pada medium agar sesuai dengan hukum fisika yang berlaku atas proses difusi suatu molekul. Hasil yang didapat berupa diameter zona hambat pada agar sekeliling sumur. Terbentuknya areal bening di sekitar koloni bakteri menunjukkan adanya penghambatan pertumbuhan bakteri uji. Semakin luas areal bening menunjukkan semakin tinggi aktivitas antimikroba.

C.    Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cawan petri, bunsen, erlenmeyer, pipet mikrometer, dan inkubator. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu media NA, Bakteri E. Coli, Bayclin, Karbol, alkohol, dan aquadest.

D.    Cara Kerja
1.         Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.         Media NA yang sudah dibuat ditambah bakteri e.coli tuangkan kedalam cawan petri dan tunggu hingga media beku.
3.         Jika sampel sudah buku lubangi menjadi 4 bagian dengan menggunakan tip yang sudah dipotong ujungnya.
4.         Dengan ukuran lubang 0,6 cm atau 6 mm.
5.         Selanjutnya pipet bayclin dan karbol menggunakan mikropipet sebanyak 50 mikro liter.

6.         Inkubasi dengan posisi tidak dibalik dengan suhu 300C selama 48 jam.
7.         Amati dan hitung jumlah bakteri yang tumbuh.

E.     Data Pengamatan
Hasil pengujian desinfektan metode sumur pada media Natrium Agar dan Potato Dextrose Agar
Sumur Bayclin : 7mm
Luas yang dihambat : 1.5386 cm
Sumur Karbol : 7 mm
Luas yang dihambat : 1.5386

F.     Pembahasan
Berdasarkan praktikum tentang desinfektan dan desinfeksi yang telah dilakukan dimana diujikan dua jenis desinfektan  yaitu Bayclin dan karbol. Yang mana setelah itu akan diamati ada tidaknya pengaruh terhadap pertumbuhan dan pertahanan bakteri dalam medium agar.
Menurut Dwidjoseputro (1994) bahwa pada umumnya bakteri yang muda itu kurang daya tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Pekat encernya konsentrasi lamanya berada dibawah pengaruh desinfektan. Faktor-faktor yang dapat dipertimbangkan pula. Kenaikan temperatur akan menambah daya desinfektan, selanjutnya medium juga dapat menawar daya desinfektan.
Umumnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan, tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Hal ini diperkuat oleh Jawetz (2005) bahwa antiseptik tersebut harus memiliki sifat yang tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras dan harus bersifat spesifik terhapa bagian tubuh yang membutuhkannya. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi atau proses pembebasan alat atau bahan dari mikroba, tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi. 
Bakteri pada larutan hipertonis tidak dapat hidup karena selnya mengalami plasmolisa dan pada larutan hipotonis bakteri juga tidak dapat hidup karena selnya mengalami lisis. Menurut Irianto (2006) yang menyatakan bahwa, bakteri idealnya hidup pada kondisi larutan isotonis. Apabila ia berada dalam larutan hipertonis maka cairan-cairan dalam sel bakteri akan terdesak keluar dan pecah sehingga terjadi plasmolisis. 
Spora pada umumnya lebih tahan daripada bentuk vegetatif dan hanya beberapa desinfektan yang berfungsi sebagai halogen, formalin, dan etilen oksida yang efektif terhadap spora. Menurut Anonim (2014), yang menyatakan bahwa beberapa komponen kimia pada konsentrasi rendah tidak dapat membunuh jasad renik, tetapi hanya menghambat pertumbuhannya. Pada senyawa tertentu yang terdapat pada rempah-rempah, memiliki komponen yang mempunyai sifat bakteriostatik atau fungisid. Komponen kimia mempunyai kecepatan membunuh yang berbeda-beda terhadap jasad renik. 
Zona bening pada cawan petri terbentuk karena berkurangnya jumlah bakteri disekitar paperdisk karena pertumbuhannya terhambat. Jika tidak ada pertumbuhan berarti bakteri E.coli dalam petridisk telah mati. Kita ketahui bahwa untuk identifikasi suatu bakteri dapat dilihat dari tingkat kekeruhan yang terjadi didalam medium. Menurut Dwidjoseputro (1994) yang menyatakan bahwa untuk mengetahui kekuatan masing-masing desinfektan orang atau praktikan perlu mempunyai suatu ukuran pokok.
Metoda yang paling sering digunakan adalah metoda difusi sumur agar yang digunakan untuk menentukan aktivitas antimikroba. Kerjanya dengan mengamati daerah yang bening,   yang   mengindikasikan   adanya   hambatan pertumbuhanmikroorganisme oleh antimikroba pada permukaan media agar (Jawetzet al.,005). Pada praktikum ini, metode difusi sumur yang digunakan adalah cara cup plat. Cara ini juga sama dengan cara cakram, dimana dibuat sumur pada mediaagar yang   telah   ditanami dengan   mikroorganisme   dan   pada   sumur   tersebut diberi desinfektan  yang akan di uji.
Praktikum uji desinfektan dengan metode difusi sumur menggunakan beberapa jenis desinfektan. Tujuan digunakan macam-macam jenis desinfektan yakni untuk mengetahui desinfektan mana yang paling efektif dalam   menghambat pertumbuhan   bakteri   yang   diinokulasikan   pada   sumur.  dengan menggunakan prinsip difusi agar. Beberapa proses berlangsung ketika infusa yang mengandung antimikroba dimasukkan ke dalam sumur pada agar medium yang telah diinokulasi. Pertama, terjadi   penyerapan air dari medium agar   dan Kemudian melarut. Kemudian antimikroba itu berdifusi pada medium agar sesuai dengan hukum fisika yang berlaku atas proses difusi suatu molekul. Hasil yang didapat berupa diameter zona hambat pada agar sekeliling sumur. Terbentuknya Areal bening   di   sekitar koloni   bakteri   menunjukkan   adanya   penghambatan pertumbuhanbakteri uji. Semakin luas areal bening menunjukkan semakin tinggi aktivitas antimikroba.
Pada praktikum yang telah dilakukan di dapati hasil luas area bening masing-masing sebanyak 153 cm, hal ini mennandakan adanya efektivitas dari antimikroba yang terkandung dalam desinfektan yang mampu mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang dalam pengujian kali ini digunakan E.coli

G.    Kesimpulan
Praktikum diatas menunjukan adanya aktivitas antimikroba pada desinfektan yang mampu mencegah atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang pada pengujian di gunakan E.coli, hasil luas area yang di dapat dari keda dseinfektan tersebut adalah sama yaitu 1.53cm.

0 komentar:

Posting Komentar

My Birthday :)

Daisypath - Personal pictureDaisypath Happy Birthday tickers
 

PURPLE CATZ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review