Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2016

CERPEN : Cinta Sendiri

Diposting oleh Luneta Aurelia Fatma di 22.17.00 0 komentar
CINTA SENDIRI
by : Luneta Aurelia Fatma

Aku memandangi sebuah undangan resepsi pernikahan di tanganku. Undangan berwarna merah jambu dengan hiasan pita yang manis. Berkali-kali aku membacanya. Hampir setiap ada waktu luang aku melihatnya. Dan kini, aku sampai di tempat acara resepsi pernikahan itu dengan gaun yang indah dan penampilan yang cantik. Namun, tidak secantik perasaanku saat ini. Aku menarik nafas panjang. Air mata ini mulai mengembang, bukan hanya sekali atau dua kali tapi sudah sekian kalinya. Aku melihat ke atas langit malam. Dan, memejamkan mata ini perlahan.
***
            Kevin, aku menyebut namanya dalam diam, dalam kehampaan, dan dalam kekosongan perasaan ini. Sudah tiga tahun mengenalnya dan sudah dua tahun lamanya memendam perasaan ini. Aku sudah berusaha keras untuk meluluhkan hatinya. Namun, hatinya benar-benar sangat beku. Belum mampu aku sentuh, belum mampu aku membuatnya sadar bahwa aku lah yang sudah menunggunya sejak lama. Namun, semakin aku mendekat, semakin banyak pula luka yang dia goreskan pada hati kecil ini.
            Hujan turun perlahan di batasan kemarau. Memberikan suasana yang sangat menyenangkan. Aku berteduh di sebuah halte , dengan seragam putih abu-abu yang sangat basah. Gigiku bergemeletuk, tubuhku menggigil kedinginan. Andai saja aku membawa payung. Hari semakin malam, hujan belum juga berhenti. Semakin malam, tubuhku semakin tidak enak. Angkutan umum yang ku nanti sangat jarang melewati halte ini. Sekalipun lewat angkutan umum itu sudah ramai oleh penumpang dari terminal. Dan, kenyataan yang lebih buruk adalah ponselku mati. Apa yang Tuhan ingin tunjukkan kepadaku?
“Clara?” Sapa seseorang. Aku menoleh, dan memicingkan mata. Penglihatanku agak buram. “Clara kenapa kamu disini? Kenapa nggak pulang aja de?” Orang itu duduk disampingku. Aku mengucek mataku perlahan. Dan.....
“Kak Kevin!” Seruku terbelalak. Apakah ini takdir indah Tuhan yang di maksudkan? Tuhan memang adil.
“Kamu kenapa disini?” Tanya Kevin lembut. Aku melihatnya, basah kuyup sama sepertiku.
“Aku? Kakak sendiri ngapain disini?” Aku bertanya balik tanpa menjawab pertanyaannya.
“Kakak habis pulang les, eh hujannya belum berhenti. Kakak neduh disini dulu soalnya tempat les kakak udah di tutup.”
“Kakak lucu basah gitu.” Aku tertawa kecil.
“Ah kamu juga de.” Kevin ikut tertawa. “Berantakan gini lagi.” Kevin mengacak-acak rambutku yang basah. Hal yang sangat jarang aku temui pada sisi Kevin.
“Hehe, biarin aja kak.” Aku menjulurkan lidahku.
“Eh, badan kamu panas nih. Pulang aja naik taksi.” Kevin menaruh tangan kanannya di keningku. Aku menggeleng.
“Aku mau disini sama kakak.” Kataku pelan, nyaris tak terdengar. “Hachiiim”
“Tuhkan tuhkan, pulang sana. Besok kan sekolah de.”
Aku hanya diam mengabaikan semua perkataan Kevin. Suasana semakin hening, Di halte hanya ada kami berdua. Aku melihat jam tanganku. Pukul sepuluh malam. Hujannya awet, dan aku berharap aku bisa bersama Kevin lebih lama lagi.
“Kak, kenapa sih kakak bersikap cuek sama cewek?” Tanyaku berusaha mencoba mencari jawaban yang selama ini menjadi beban perasaanku.
“Kakak mau fokus belajar de.” Jawabnya. Jawaban yang sangat basi bagiku. “Kakak mau sukses dulu. Mau membanggakan orangtua. Mau merubah bangsa ini menjadi lebih baik. Kakak rasa pemikiran remaja penerus seperti kita ini harus diubah. Pacaran yah? Pacaran hanya membuat perjalanan hidup kakak tidak fokus. Kakak janji setelah lulus nanti, kakak bakal banyak ada waktu untuk kamu.” Kevin mengedipkan sebelah matanya. Dengan bibir yang terhias senyum indah.
“Kak...” Aku menarik nafas, Kevin menatapku. “Aku sayang sama kakak.” Kataku pada akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi, kurasa ini saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Rasa yang selama ini sudah terpendam. Jatuh cinta yang selama ini aku rasa dalam diam.
“Kakak juga de, Kakak sayang sama kamu.” Lagi-lagi Kevin tersenyum. Pernyataannya membuat hatiku tersentak tak percaya.
Mendengar perkataan itu terucap dari mulut Kevin rasanya seperti mimpi. Entahlah, apa lagi yang harus aku lakukan. Tapi, segala pertanyaan dalam hatiku sudah terjawab.

***
Semenjak kejadian itu, aku dan Kevin semakin dekat. Bahkan, banyak yang mengira aku sudah berhasil menjamah hati Kevin. Tapi, memang benar. Dari sekian banyak gadis yang mendekati Kevin. Hanya aku lah yang mendapat perlakuan berbeda. Seperti aku orang yang special di mata Kevin. Aku harap begitu.
Tepat hari ini, hari dimana Kevin di wisuda. Kevin memakai jas hitam dan kemeja berwarna biru. Penampilannya keren, sangat keren di mataku. Yang membuat aku semakin kagum adalah Kevin berhasil meraih NEM tertinggi di sekolahku dan mendapatkan SNMPTN jalur Undangan kemudian di terima di Kedokteran Universitas Indonesia.
“Selamat yaaah kakak ganteng!” Godaku.
“Terima Kasih ya de.” Kevin tersenyum kecil, wajahnya memerah. “Kamu semangat yah buat sekolahnya.”
“Oke deh kak!” Seruku mantap. “Kan ada kakak yang bakal nemenin aku belajar. Ya kan ya kan?” Aku mengedip-ngedipkan mataku genit.
“Maksud kamu?” Tanya Kevin. Wajahku langsung berubah datar.
“Janji kakak waktu itu. Kakak akan selalu ada banyak waktu untukku. Kakak ingat?” Tanyaku mencoba mengingatkan.
“De...” Kevin menyentuh pundakku pelan. “Maafkan kakak ya de. Kakak rasa waktu itu kakak salah ngomong sama kamu. Waktu itu kakak belum berpikir panjang. Kamu seharusnya ngertiin perasaan kakak untuk saat ini. Kakak di terima di Universitas Indonesia dan kakak harus belajar lebih giat lagi agar dapat lulus sebagai lulusan terbaik kedokteran.” Jelas Kevin. Membuat perasaanku sakit.
“Tap...tapi...” Aku menarik nafas mencoba mempertahankan air mataku yang akan jatuh.
“Dan kamu harus ngerti juga. Hari ini adalah hari perpisahan buat kita Ra. Mungkin, setelah ini kakak akan jarang nemuin kamu dan membalas pesan singkat kamu. Tuhan memberikan takdir yang lain untuk perkataan kakak waktu itu.”
“Lalu...apakah saat kakak bilang sayang sama aku juga sebenarnya cuma omong kosong doang?” Tanyaku sambil terus mencoba mempertahankan air mata yang ingin jatuh.
“Clara, itu...”
“Kakak menyuruh aku ngertiin perasaan kakak sementara kakak gak ngertiin perasaan aku sama sekali! Kakak tau gak rasanya nunggu kakak sampai tiga tahun itu rasanya kayak gimana? Rasanya tuh capek. Capek banget!” Akhirnya butir halus itu jatuh di sudut gelap mataku. Jatuh perlahan namun semakin deras.
“Clara kakak gak bermaksud...”
“Dan, kakak pun sama sekali gak tau perjuangan aku mempertahankan perasaanku ini cuma buat kakak. Kakak tega!” Aku menutup kedua mataku. Kevin terdiam, dia mengernyitkan dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“Clara kamu itu salah paham.” Kevin mengusap kepalaku lembut. Aku terisak, dadaku sesak. Sangat sesak.
“Peraih NEM tertinggi di sekolah adalah... kelas XII IPA 2 Kevin Anggara.” Kepala Sekolah memanggil nama Kevin untuk maju ke atas panggung.
“Aku harap kamu ngerti Ra.” Kevin meninggalkanku, dan maju ke atas panggung.
Aku sama sekali tidak mengerti. Apa yang Kevin inginkan? Apa yang Kevin maksudkan? Pikiranku kosong. Bukankah selama ini Kevin memang hanya bisa memberiku harapan palsu? Dan meremukkan perasaanku perlahan-lahan. Membutakan aku. Hingga hatiku tertutup untuk siapapun.

***
Aku pulang tanpa sepengetahuan Kevin. Rasa sesak ini masih ada, begitupula dengan rasa perih yang aku rasakan. Sangat dalam tertancap di relung hatiku. Namun, ternyata Kevin menelponku.
“Hallo Clara.” Sapa Kevin.
“Kenapa?” Tanyaku datar.
“Clara aku mau menjelaskan semuanya. Aku harap kamu bisa ngerti.” Kata Kevin mencoba menjelaskan.
“Apa? Apa yang harus aku ngertiin kak? Apa?” Tanyaku kesal.
“Sebelumnya kakak minta maaf kalau kakak kurang peka terhadap kamu. Dan sejujurnya kakak baru tau bahwa kata ‘sayang’ yang kamu maksudkan adalah kata sayang yang berbeda dengan pemikiran kakak. Maaf de, kalo omongan kakak semuanya bullshit bagi kamu. Tapi, kakak rasa ini hanya soal ke salah pahaman saja de.”
“Apa yang kakak maksud?” Tanyaku bingung.
“Semenjak malam itu, kakak berusaha mengubah pikiran kamu. Mengubah pikiran kamu agar lebih fokus kedepannya. Kakak yakin kamu bisa, dan kamu lihat sendiri kan? Kamu yang sama sekali gak masuk ranking sepuluh besar bisa mendapatkan ranking dua dalam jangka waktu singkat.”
“Jadi kakak deketin aku cuma karena itu? Bukan karena ada rasa yang lebih?” Tanyaku tanpa basa-basi.
“Clara, aku emang sayang sama kamu. Tapi...” Kevin berhenti sejenak.
“Tapi apa?” Tanyaku semakin penasaran.
“Tapi cuma sebagai adik. Kakak cuma anak tunggal, dan kakak sangat antusias ketika melihat kamu yang sangat butuh dorongan motivasi.” Jelas Kevin.
Seperti ada kilat datang, perasaanku tercabik-cabik. Rasanya benar-benar sangat sakit. Air mataku mengalir deras. Aku menangis sesenggukkan. Jadi? Ia hanya menyayangiku sebagai adik? Jadi selama ini.....
“Clara kamu gak kenapa-kenapa?” Tanya Kevin saat mendengarku terisak.
Aku hanya diam, mengatur nafasku.
“Gak apa-apa. Kak maaf batre handphone-ku low. Aku gak bisa lama-lama teleponannya. Makasih kak sudah menjelaskan semuanya. Sekarang aku ngerti.” Kataku berbohong. Aku menutup telepon. Dan mematikan ponselku. Kenyataan ini sungguh menyedihkan bagiku. Aku janji mulai hari ini aku akan pergi dari kehidupan Kevin.
***
            Hari ini aku kembali ke Jakarta. Setelah aku berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas Gajah Mada jurusan Psikologi dan mencoba bekerja selama lima tahun di Jogja. Dari semua teman, hanya Renata saja yang masih setia bersamaku. Dia benar-benar sahabat yang klop untukku. Hari ini aku berjanji bertemu dengannya di stasiun.
Tiba-tiba, Bruuuk!
Seseorang menumpahkan segelas minuman ke bajuku.
“Heh, kalo jalan liat....” Aku menatap orang itu. Hening sesaat.
“Clara? Kamu udah pulang ke Jakarta?” Kata seseorang, suaranya tak asing.
“Kak Kevin? Kok kakak tau aku ada di  luar kota?” Aku berbalik bertanya.
“Apa sih yang aku gak tau dari kamu?” Kevin tertawa.
Kevin berubah, dia semakin keren dan sangat terlihat mapan. Aku tidak tau, secara refleks senyumanku terlukis kembali. Perasaan jatuh cinta itu muncul kembali. Perasaanku tidak bisa berbohong.
“Oh ya de aku punya sesuatu untuk kamu. Aku selalu simpan ini, siapa tau aja ketemu kamu ternyata benar ketemu kamu hehe.” Kevin mengambil sesuatu ditasnya.
Sesuatu? Selalu di simpan? Apa itu? Aku bertanya-tanya dalam hati penasaran.
“Ini!” Kevin memberikan sebuah undangan berwarna merah jambu dengan hiasan pita.
“Apa ini?” Tanyaku. Undangan pernikahan? Aku terkejut menemukan nama Kevin dalam undangan itu.
“Dua Minggu lagi aku akan menikah. Aku gak nyangka bisa ngasih undangan ini ke kamu. Aku kira kita gak akan pernah bertemu lagi ya.” Kevin tertawa kecil.
“Selamat yah Kak.” Aku mengulurkan tangan kananku Kevin menjabatnya.
“Iya, dia adalah cinta terakhir kakak de.”
“Aku harap kamu datang de. Aku sangat berharap.” Kevin tersenyum.
“Insya Allah kak.” Kataku dengan suara bergetar. Menyembunyikan kegalauan hati ini. Hati yang terluka berulang kali.
***
“Clara!!!” Seru Renata. “Ayo masuk, lo bisa kok! Lo kuat!” Renata membuyarkan serpihan kenanganku. “Lo udah dateng kesini, masa lo sia-siain!”
“Maaf Ren, gue rapuh banget.” Aku menghapus air mataku.
“Udah jangan nangis lagi make up lo pudar tuh. Masa udah cantik muka kayak badut sih! Ayo masuk cepetan!” Renata menarik tanganku memasuki gedung resepsi pernikahan Kevin.
Kami sudah telat satu jam, aku melihat Kevin dengan Violet di pelataran. Kenyataan ini menyakitkan. Hatiku perih.
Aku menjabat tangan gadis yang akan menjadi pendamping hidup Kevin. Dan, menjabat tangan Kevin. Aku tak sanggup.
“Clara maafkan kakak, andai waktu bisa terulang. Kakak akan berusaha untuk memahami perasaan kamu lagi dan juga perasaan kakak. De, setelah kamu pergi jauh. Kakak baru sadar bahwa kamu lah cinta pertama kakak. Dan bodohnya kakak menyiakan kamu. Seiring berjalannya waktu. Kamu tak juga kembali, dan semakin menghilang. Maafin kakak ngecewain kamu, ini takdir Tuhan. Kakak yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik. Lebih baik dari kakak de. Masih banyak yang lebih indah dari cinta de. Bukalah perasaan kamu de. Jangan sampai kamu menyesal seperti kakak.” Bisik Kevin, membuat perasaanku semakin sesak.
“Andai waktu bisa terulang. Aku akan berusaha untuk mencoba mengerti semuanya.”
“Semua terlambat, sekarang Violet adalah pilihan kakak.” Kevin tersenyum. Namun, senyuman Kevin membuatku menangis. Dan, Violet menatapku curiga.
“Clara. Ayo...Kita pulang aja.” Ajak Renata.
Aku menurut, dan pergi keluar. Air mataku sudah penuh menghiasi pipiku. Berulang-ulang jatuh mengalir begitu saja.
“Kevin...Kev...Kevin...” Aku menangis sesenggukkan di pundak Renata..
Mungkin Tuhan punya takdir yang lebih baik untukku. Walaupun kebahagiaanku selanjutnya tidak bersama Kevin. Tapi, berkat Kevin. Aku bisa berubah kearah yang lebih positif sejauh ini. Sekarang aku mengerti.

~THE END~

Note : Mohon untuk tidak mencopast karya asli aku ya baik secara tulisan maupun ide. Thanks ;) Hargai karya orang lain.

Sabtu, 28 Januari 2012

Love Autumn

Diposting oleh Luneta Aurelia Fatma di 23.54.00 0 komentar
Antologi pertamaku :3
Hasil cerpen murni buatanku :)

Love Autumn
Harga Rp 25.000,-

“…Jika Anda membaca cerita cinta yang kisahnya berbeda dengan cerita cinta pada umumnya, saya harap itu buku antologi cerpen romantis ini.”
--Nugraheni,
penulis novel Pardes & 5 Sahabat Hantu--

“Segala yang kau butuhkan adalah cinta,” ucap penyanyi legendaris dunia, John Lennon. Yup! Dia benar. “Sesuatu yang dicintai selalu indah,” demikian bunyi pepatah bijak dari Norwegia. Yup! Ini juga betul. “Cinta tidak pernah terwujud oleh paksaan,” ujar Erich Fromm. Sepakat! “Tebarkan cinta, kau akan merasakan keajaibannya!” seru J. Khrisnamurti. Jempol seratus untuk beliau.
Pokoknya, tak ada yang lebih hebat dan dahsyat pengaruhnya di dunia ini selain manusia yang terserang demam cinta.
Nah, buku menarik ini memuat beragam kisah super romantis dan liku-likunya dengan cara yang segar, unik, indah, renyah, dan menawan tentunya. Ada haru cinta. Ada tawa bahagia. Ada rindu yang menggumpal. Ada juga gelegar rasa yang memabukkan.
Sebuah suguhan yang layak Anda nikmati. Dan, kado yang tepat untuk para pengagum cinta. Selamat membaca!

“Mata biasa? Lazimnya hanya mampu melihat hal-hal yang biasa saja. Mata hati? Tak diragukan, jika diasah akan mampu melihat hal-hal yang detail, lembut, halus, dan indah, serta menggetarkan. Para pengarang kumpulan cerpen romantis ini menulis karyanya dengan mata hati dan lensa warna-warni.--Naning Pranoto--
— with Komunitas Diva-Press Kedua.

Daftar Isi:
1. Lensa - Rr. Dwi Indah Rinawati
2. Dari Julie Untukku - Irsan Ramdani
3. Dari Toilet Turun ke Hati - Zoel Ardi
4. Elegi Cinta - Mahadewa Adi Seta
5. Gadis Kaca - Zian Armie Wahyufi
6. Hujan Menjadi Saksi - Luneta Aurelia Fatma
7. I Love You, Amy - Hawa Elpandani
8. Segelas Kopi Susu - Rachem Siyaeza
9. Kereta Gerbong Empat - Adrindia Ryandisza
10. Kesetiaan Senja - Mira Pasolong
11. Love Autumn - Eni Lestari
12. Setangkai Anggrek Basah - Binta Almamba
13. Shiju Koi - Yoana Dianika

Rabu, 07 September 2011

Kenyatan yang menyedihkan

Diposting oleh Luneta Aurelia Fatma di 04.31.00 0 komentar
Dia...
Dia adalah seorang cowok yang sudah aku kagumi selama 5 tahun, semenjak aku kelas 1 SMP. Sampai saat ini, dia pun tak pernah mengetahui rasa sayangku ini. Rasa yang telah aku pendam dari 5 tahun yang lalu hingga saat ini. Walau dia tak pernah dekat denganku tapi aku tak tau mengapa, aku bisa merasakan jatuh cinta yang luar biasa terhadapnya. Dia adalah Vino, yang sekarang menjadi kakak kelasku yang umurnya beda setahun denganku, aku sangat senang bisa satu sekolahan dengannya hingga sampai saat ini.

"Ade" dia tersenyum, ketika berpapasan denganku dikoridor sekolah.

"Iya ka? hehe" mukaku memerah, dan selalu salting ketika bertemu dengannya.

Lalu, kami pun berlalu begitu saja. Selalu seperti itu setiap kami bertemu. Tak pernah berbicara terlalu panjang bahkan di SMS atau jejaring sosial pun kami tak banyak bercakap-cakap. Namun, aku tau hampir semua tentang dia. Aku gak tau mengapa cinta ini bisa tumbuh, tanpa ada pendekatan.

***

Hari ini, hari menyedihkan bagiku. Ibuku yang sebagai orangtua tunggalku meninggal dan menyusul kematian Ayah yang telah tiada sejak 6 tahun. Aku sangat amat terpukul. Tapi, tak kusangka sosok yang tak pernah aku pikirkan akan datang kerumahku untuk melayat, sosok yang selalu aku inginkan. Vino.

"Ade, kamu yang tabah ya." dia menghampiriku, tepat berada disampingku. Tak pernah sebelumnya sedekat dan selama ini dia berada didekatku.

"Iya kak. Makasih." mukaku memerah, tiba-tiba tangisku berubah menjadi senyum kecil.

"Siapa yang akan mengurus kamu nanti Sarah?" tanyanya dengan wajah yang sangat menunjukkan bentuk kepedulian.

"Mungkin tanteku kak. Aku sedih" kataku lirih

"Oh, kamu pasti bisa kok dede Sarah. Semangat ya!" Vino mengacak sedikit rambutku. Saat itulah pertama kali iya menyentuhku. Aku begitu senang, aku hanya bisa tersenyum kecil.

***

Sebulan berlalu.
Keadaan berlalu seperti biasa, aku selalu semangat dalam menghadapi keseharianku. Walau, Vino tak pernah lagi menyemangatiku seperi saat itu. Aku cuma bisa melihatnya dari jauh tak berani untuk menyapanya ataupun mendekatinya, aku malu.
Aku cuma selalu berdoa "Tuhan, Izinkan aku untuk memilikinya. Aku mohon. Aku sangat menyayanginya, hingga sampai saat ini aku. Aku ingin, berikan aku kesempatan untuk memilikinya untuk selamanya"

***

"Sarah, Tante ingin berbicara padamu." Tante Mei mendekatiku dengan wajah serius disuatu pagi di hari Minggu.

"ada apa Tante?" tanyaku heran.

"Kamu sudah besar dan sekarang Ibu dan Ayahmu telah tiada. Sebelumnya tante minta maaf telah merahasiakan ini padamu. ini..." Tante Mei memberikan sebuah surat. Perlahan aku membukanya. Itu surat dari Ibu.

*Sarah sayang,
Maafkan Ibu karna tidak pernah bercerita sebelumnya.
Sebenarnya, kamu adalah bukan anak kandung kami berdua. Waktu kamu berumur 2 tahun, ada seorang Wanita menitipkan kamu ke kami. Ibu itu sedang kesulitan Ekonomi. Ibu cuma ingin kamu mengetahui siapa orangtua kandungmu. Ibu tak pernah menemui wanita itu lagi karna sudah terlanjur sayang padamu. Ibu takut mereka mengambilmu dari tangan kami. Jika sekarang kamu ingin tau siapa orangtua kandungmu, Tante Mei akan mengantarkan kamu kepada orangtua kandungmu.*

Aku menangis, lalu menatap Tante Mei penuh harap. Namun, aku menghapus air mataku teringat kata-kata Vino, aku harus semangat!

***

Tante Mei mengantarkanku kesebuah rumah, rumah yang besar nyatanya. Sebelumnya Tante Mei sudah bilang kepada orangtua kandungku bahwa aku akan datang. Tiba-tiba seorang Wanita keluar dari balik pintu rumah, ia tersenyum dan menyapaku ramah. Ternyata dia lah orangtua kandungku. Dia amat baik hati kepadaku, tak lama aku pun mencoba berusaha beradaptasi dengan keadaan disana.

"Inoooo" Ibuku memanggil seseorang.

"Ibu manggil siapa?" tenggorokkanku tercekat ketika menyebut kata 'ibu', aku belum terbiasa.

"Kakakmu sayang" dia tersenyum

Sosok yang dipanggilpun datang, aku membelalakan mata.

"kak......kak Vino?" bibirku bergetar, tak sanggup menerima kenyataan.

"Hey? Sarah?" ia juga sedikit heran melihatku.

"ini adik kamu yang sudah hilang" mata Ibu berkaca-kaca karna terharu. Tapi, mataku lebih dulu sudah menjatuhkan air mata.

"wah senang sekali ya?" Vino tersenyum lugu. "kenapa kamu menangis?" tanyanya ketika melihatku terisak.

"kelilipan kak hehe" tawaku kecil yang memendam sangat amat rasa menyedihkan.

***

"Sarah" Vino mengetuk pintu kamarku.

"masuk" kataku sambil menghapus air mataku.

"kamu kenapa? kamu ada masalah? atau masih sedih karna kehilangan orangtuamu? cerita aja sama kaka oke" Vino tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Kadang kenyataan emang gak memihak sama kita ya kak" kataku

"Iya itulah takdir dari Tuhan, harus kita jalankan dengan ikhlas"

Nafasku seakan ingin berhenti, dan jantungku seakan ingin ikut berhenti berdetak mendengar perkataan Vino.

"Gak nyangka yah aku ternyata adik kandung kamu kak"

"iya, tapi aku senang bisa jadi kakak kandung kamu de"

"kakak tau gak?" tanyaku menatap matanya lekat.

"tau apa?"

"Aku sayang kamu" Akhirnya bibirku mengucapkan 3 kata itu.

"Aku juga sayang kamu de" Vino lagi-lagi tersenyum membuat dadaku sakit.

"Aku sudah sayang kaka sejak 5 tahun"

"5 tahun?"

"Ya, sampai saat ini." aku tersenyum walau sangat pedih. "Aku berharap aku bisa miliki kakak seutuhnya dan selamanya"

"masksud kamu de?" Vino mulai bingung

"Aku sayang kakak, Aku Cinta sama kakak. Dari dulu aku berharap lebih, tapi harapan itu musnah kak. MUSNAH!!!" Tangisku pun pecah, Vino memelukku dan membelai rambutku.

Sambil berbisik "Aku sayang kamu de, tapi sebagai Adik. Gak lebih." Vino pergi keluar kamarku dan meninggalkanku begitu saja.

***

Kini, aku sudah memiliki dia seutuhnya dan selamanya. Tapi, begitu menyakitkan ketika aku mengetahui bahwa orang yang selama ini aku Sayangi ternyata adalah kakak kandungku sendiri. Yang aku tau, seorang Adik gak akan mungkin bisa mempertahankan rasa Cintanya terhadap kakaknya.Seorang adik gak mungkin JATUH CINTA sama kakaknya. Kenyataan memang kadang tak selalu memihak pada apa yang aku harapkan. Meski doaku terkabul, tapi kini aku tak bisa mencintai orang yang aku sayang seutuhnya. Karna hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik, gak lebih.

Aku akan melupakan semua rasa cintaku pada Vino, karna percuma aku tak akan mungkin memaksakkan cinta terhadap saudara kandungku itu.



Luneta Aurelia Fatma ----> No Copas


Rabu, 24 Agustus 2011

Kenangan Terakhir

Diposting oleh Luneta Aurelia Fatma di 00.13.00 0 komentar

Lala mendengarkan kotak musik yang ada ditangannya, kotak musik berwarna hitam berbentuk hati. Sesekali ia mengahapus air matanya itu. Kepergian pacar tersayangnya menimbulkan bekas yang amat dalam dilubuk hatinya. Ia ingat saat Mama memberikan kotak musik itu dan Lala ingat kenangan terakhirnya bersama Miko diwaktu hujan deras di sebuah halte.

"Hujannya deras yah" Lala menggesekkan tangannya mencoba menghilangkan rasa dingin.

"Walau hujannya deras seperti ini aku senang bisa sama kamu terus la." Miko tersenyum

Jam menunjukkan pukul 10 malam.

"Aku bisa diomelin mamaku karna belum pulang, bagaimana ini?" tanya Lala panik.

"Nanti aku kerumahmu dan menjelaskannya pada mamamu, kita kan terjebak hujan dan tidak bisa pulang pasti mamamu memaafkan" Miko meyakinkan

"Tapi.... nanti kamu bisa pulang malam jika harus mengantarkanku pulang"

"Dengar la, aku disini hanya hari ini special untukmu dihari ulang tahunmu, kamu ngerti?" lagi-lagi Miko tersenyum membuat muka Lala memerah disela kepucatan bibirnya.

"Makasih Miko, makasih untuk hari ini. Makasih" Lala membalas senyum manisnya.

Sekitar satu jam berlalu hujan mulai mereda hanya menyisakan dingin malam dan jalanan yang licin.

"Hujan udah mulai reda mik, pulang sekarang aja ya aku takut mama marah"

"Iya sayang"

Mereka pun pulang, Lala memeluk erat tubuh Miko yang basah namun baginya tetap terasa hangat dan begitu nyaman. Ia menyukai rasa nyaman tiap kali dengan Miko. Rasa nyaman yang tak pernah ia temui pada siapapun.
Namun, ketika ditikungan tajam, mereka tak menyangka akan bertemu dengan maut yaitu sebuah truck besar dalam sekejap Miko kehilangan kendali, Lala terjatuh tapi nasib tak berpihak pada Miko, seketika Miko tergilas oleh ban-ban besar truck itu. Dan, Lala melihat semua itu dengan jelas.

"MIKOOO!!!" Tangis Lala pun membuyar. Ia ingin berlari menghampiri Miko tapi ia tak bisa kakinya begitu terasa berat untuk berpijak.

***

"aku dimana?" Lala terbangun, suasananya begitu hening dan ada mama disampingnya. "ini dirumah sakit" katanya ketika ingat kejadian semalam.

"Kamu udah bangun sayang?" Mama mengusap kepala Lala yang diperban.

"Miko mana ma?" tanya Lala menahan tangis, ia berusaha sanggup untuk mendengar jawaban mama.

"Miko, em... Miko ada kok" Mama tersenyum sambil menatap mata anak tunggalnya itu.

"Bohong ma, aku lihat sendiri ma. Tubuh Miko hancur tertabrak Truck itu mah, mama jangan bohong" Lala menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, wajahnyanya begitu basah dengan air matanya sendiri.

"buktinya, ia menitipkan ini." Mama memberikan sebuah kado berbungkus kertas kado warna merah.

"ini...? apa?" tanyanya lirih.

"Dari Miko." Mama mengangguk, namun Lala melihat cahaya mata mama yang memudar seperti ingin ikut menangis.

Lala mengambil hadiah itu lalu membukanya, isinya adalah sebuah kotak musik. Lala membuka kotak musik itu, kotak musik itu mengeluarkan nada-nada indah yang membuat Lala nyaman. lalu, ia melihat sebuah kertas terlipat didalamnya. Lala membaca isi kertas itu.

*Dear Lala...
Happy Birthday ke 19 tahun yah sayang. Aku ngasih ini untuk kamu karna aku tau kamu menyukai musik. Aku harap kamu menyukai hadiah ini.
Jika kamu merasa kangen sama aku, buka kotak musik ini. Kamu akan seperti sedang bersamaku.
with love : Miko*

Lala tersenyum,

"Dimana Miko sekarang ma?" Tanya Lala.

"Didalam hati mu yang terdalam sayang. Sebelum ia mengajakmu pergi keluar ia menitipkan hadiah ini untukmu. Sekarang ia sudah pergi, itu mungkin hadiah terakhirnya" Mama menangis

"Maksud Mama?" Lala menggeleng, kemudian Mama langsung memeluk Lala erat

"Kamu harus terima kepergian Miko sayang, kamu bisa sayang"

***

Lala menutup kotak musik itu, kotak musik itu merupakan kenangan terakhir dari Miko. Kenangan yang begitu pahit bagi Lala. Mama benar, Miko ada dihati Lala yang terdalam meski kini hanya bayangan yang Lala cintai. Melalui kotak musik itu, Lala merasa nyaman seperti bersama Miko. Melalui Kotak Musik itu Lala mencoba mengingat Miko walau hanya kenangan terakhir yang selalu bisa ia ingat.



Luneta Aurelia Fatma ----> No Copas

Minggu, 21 Agustus 2011

Harapan Palsu

Diposting oleh Luneta Aurelia Fatma di 22.10.00 0 komentar
Hari ini, ia ingin bertemu denganku. Aku tak tau mengapa masih mau menemuinya. Hujan diluar cafe ini menginginkanku untuk mengingat serpihan kenanganku, kenangan yang sudah menjadi lukaku saat ini.
Dia datang, memasuki cafe ini lalu melepas jaketnya. Dia mendekatiku lalu duduk perlahan didepanku. Dia tersenyum, aku hanya bisa tersenyum kecil walau hati ini masih sangat perih mengingat kenangan lalu.

"kenapa? jaketnya dilepas?" tanyaku sambil melihat jaketnya itu yang kulihat sedikit basah terkena percikan hujan diluar.

"Gapapa, kamu gak pake jaket kan? pasti kedinginan, biar adil kita sama-sama merasakan dinginnya udara saat ini" dia tersenyum lagi, senyum yang menyenangkan namun selalu berakhir menyakitkan.

Akhirnya kami memesan minuman di cafe itu, minuman hangat saat ini sangat cocok untuk kami dalam kondisi seperti ini. Sambil menunggu pesanan, kami hanya diam. Entahlah, aku mencoba menunggu dia agar berbicara duluan karna dia yang menyuruhku datang kesini.

"Tia, aku putus dengan Sarah" katanya tertunduk

"Sarah? Kamu putus? Lagi?" aku mengernyitkan dahi bingung, batinku sudah mulai curiga. Ya, dia menginginkanku disini hanya untuk memberikanku harapan lagi, harapan palsu.

"Ya, katanya Sarah mau fokus belajar karna dia sudah kelas 3. Aku coba pahami semua itu."

"Lalu? kenapa kamu mengajakku kesini?" Tanyaku, tanpa merespon perkataan Rio tadi.

"Cuma kamu yang paling ngertiin aku, cuma kamu. Aku mau kamu ada saat aku lemah disini."

Aku menggangguk, dan mulai mendengarkan ia bercerita. Saat ia menceritakan semua itu, aku hanya merasa kasihan padanya. Tapi, apakah dia pernah merasa peduli atau kasihan padaku? Sama sekali tidak. Dia selalu bilang 'Cuma kamu yang paling ngertiin aku' tapi tak pernah ia sedikit pun mengerti aku, malah sering kali ia menyakiti perasaanku setiap kali ia bercerita seperti ini. Sangat sakit.

***

Setelah mereka putus, kami kembali dekat lagi. Tak ku sangka aku mulai masuk kedalam harapannya lagi, harapan yang tak ku ketahui sampai kapan akan terus bertahan dan apakah akan tercapai.
Setiap hari aku begitu dekat dengan Rio, sampai orang-orang menganggap kami mempunyai hubungan lebih dari teman. Ya, aku ingin hubunganku dengan Rio melebihi teman.

"Tia, mau eskrim?" Rio menawarkan aku, eskrim coklat disuatu siang.

"kok kamu tau aku suka eskrim coklat?" tanyaku tersenyum, Rio menatap mataku lekat-lekat. Seperti berusaha membuatku gugup.

"aku gak tau kok. Aku tadi cuma asal beli doang." iya memberikan eskrim itu. Tak tau seberapa kecewanya aku mendengar ucapannya itu.

"Tia, aku mau cerita."

"apa?"

"Aku lagi menyukai seorang Gadis. Dia selalu menemani hari-hariku untuk saat ini."

Aku tersenyum berharap orang yang dimaksudnya itu adalah aku. Karna selama ini aku lah yang menemani hari-harinya. suka maupun duka.

"siapa?" tanyaku

"Kamu tau orangnya. Dia baik hati dan ramah sekali"

"Siapa?"

"Kamu mau gak jadi pacarku?" tanyanya tiba-tiba, seraya membuat jantungku ingin keluar dari tubuhku. Akhirnya kata-kata itu terucap dari bibirnya, untukku bukan untuk yang lain.

"benarkah?" tanyaku meyakinkan.

"bagus gak? rencananya aku mau nembak dia pake kata-kata itu haha" Rio tertawa

Tapi, mataku tak terasa langsung mengeluarkan air mata.

"jadi? itu bukan untukku?" tanyaku lirih

"Tia? kamu kenapa nangis? Tia?" Rio mengguncangkan tubuhku. "TIA! jawab!"

"aku gak apa" jawabku singkat

"Yang nyakitin kamu siapa? kamu jangan bohong? siapa yang berani nyakitin kamu?"

Aku menggeleng, namun dengan isak tangis yang semakin lama semakin besar.

"Tia?" Rio menatap mataku.

"Kamu pikir siapa yang nyakitin aku selama ini? Cuma KAMU!"

"aku? aku kenapa?" Rio berkata polos, tapi sepertinya memang dia tidak tau apapun.

"Apa arti kedekatan kita selama ini? Apa arti kamu ngasih perhatian selama ini? apa arti dari kata 'cuma kamu yang ngertiin aku' selama ini? kalau sampai sekarang kamu masih gak sadar juga"

"maksud kamu?"

"AKU SAYANG SAMA KAMU RIO! aku tersiksa tiap kali kamu jadiin aku tempat pelarian, apa sih maksud kamu ngasih harapan-harapan kosong ke aku? apa maksud kamu?!" teriakku

"Aku kira kamu sahabat aku yang paling ngertiin aku tapi, aku gak nyangka kamu bisa ngomong kayak gini"

"Dua tahun aku masih mau nunggu kamu walau aku tau kamu gak pernah peduli sama perasaan aku. Apa kurangnya aku dimata kamu? sampai aku gak bisa buat kamu sedikit aja punya perasaan ke aku."

"Sahabat gak bisa jadi pacar dan aku hanya anggap kamu itu." Rio meninggalkanku sendiri, bersama tangisanku. Begitu bodohnya diriku, meski sudah kunyatakan perasaan kini ia masih tidak mengerti.

***

Semenjak itu aku menjauh, aku melihat Rio bersama pacar barunya, adikku.
Aku tak pernah menyangka ia bisa memperlakukanku seperti ini, begitu egoisnya. Hatiku begitu rapuh karnanya. Namun, meski ia seperti itu aku selalu akan siap jika ia membutuhkanku meski itu hanya sekedar Harapan Palsu



Luneta Aurelia Fatma ------> No Copas

My Birthday :)

Daisypath - Personal pictureDaisypath Happy Birthday tickers
 

PURPLE CATZ Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review